ambar arum

segala macam tulisan saya ada di sini

Momen Istimewa di Untung Jawa

Saya selalu mengagumi kehidupan masyarakat yang berbeda dari saya, sebab saya yakin pasti ada nilai berharga yang dapat dipelajari. Maka ketika kelas mata kuliah Pemberdayaan Sosial hendak mengadakan kegiatan di Pulau Untung Jawa, saya sangat bersemangat. Kami sekelas sama-sama berangkat ke Pulau Untung Jawa pada hari Jumat, 10 November 2023. Di sana, kelas kami terbagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan tiga kegiatan pemberdayaan yang berbeda.

Tinggal di kepulauan kecil seperti Pulau Untung Jawa tentu memiliki tantangan tersendiri. Luas pulaunya hanya 40,10 Ha (data BPS, 2020), sekitar 16% dari total luas wilayah DKI Jakarta. Kalau di Jakarta saya sehari-hari harus menggunakan kendaraan, di Pulau Untung Jawa kita bisa mengelilingi kepulauan hanya dengan berjalan kaki. Masyarakatnya sangat ramah dan terbuka.

Pelatihan Digital untuk Warga Lokal

Pulau ini memiliki potensi wisata yang sangat tinggi. Bukan hanya sekedar menikmati pemandangan pantai dan angin sepoi-sepoi, wisatawan juga bisa melakukan berbagai kegiatan alam seperti snorkeling, banana boat, hingga tracking. Potensi inilah yang belum banyak tergali dan masih membutuhkan bantuan, supaya promosi pariwisata di pulau ini bisa lebih ditingkatkan.

Mengingat saat ini semuanya sudah serba digital, maka saya bersama dengan teman-teman kelompok dua berniat memberikan pelatihan digital marketing kepada warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), khususnya kepada para anak muda. Kenapa digital marketing? Karena saat ini masyarakat mencari informasi melalui dunia digital, yaitu media sosial. Mereka yang ingin liburan untuk melepas penat pun akan mendapatkan rekomendasi tempat wisata dari media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook atau Twitter.

Lebih detailnya, kelompok kami memberikan 3 pelatihan dasar terkait digital marketing. Pertama teknik pengambilan gambar, kedua adalah editing video, dan terakhir belajar membuat e-commerce. Total ada 20 peserta yang kemudian kami bagi menjadi 5 kelompok kecil.

Pelatihan teknik pengambilan gambar dilakukan pada Jumat (10/11/2023) pagi hingga siang menjelang salat Jumat. Tidak hanya teori, kami langsung praktik di lapangan, tepatnya di kawasan hutan mangrove. Secara berkelompok, kami minta mereka untuk mengambil foto dan video. Objek gambar yang diambil dapat berupa pemandangan, ataupun produk (yang kemudian dapat mereka promosikan untuk dijual). Selesai kegiatan, masing-masing kelompok menunjukkan hasil fotonya untuk kemudian dievaluasi dan mendapatkan masukkan. Agar peserta semangat, kami mengadakan kompetisi kecil-kecilan. Setiap peserta kami minta mengirimkan foto hasil pembelajaran di sesi ini, 3 foto terbaik nantinya akan mendapatkan hadiah menarik.

Setelah istirahat dan salat Jumat, seluruh peserta kembali berkumpul untuk melanjutkan ke agenda berikutnya yaitu pelatihan editing video. Kali ini kegiatan dilakukan di aula, peserta duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Kebetulan di sesi ini saya membawakan materi teknik editing video. Di 10 menit awal, saya memberikan sedikit pembekalan berupa teori tentang bagaimana cara membuat video yang menarik supaya bisa viral di sosial media. Selanjutnya kami langsung praktik editing menggunakan foto dan video yang sudah mereka ambil di pelatihan sesi awal tadi. Di sesi ini juga kami minta mereka setiap kelompok mengirimkan hasil editing videonya, 1 kelompok terbaik akan mendapatkan hadiah menarik.

Sesi selanjutnya adalah e-commerce. Selain pariwisata, masyarakat Pulau Untung Jawa juga memiliki beberapa produk yang dapat dijual seperti cinderamata hingga makanan berupa camilan. Kami ajak mereka untuk menjual produk-produk tersebut di platform e-commerce dengan menggunakan materi foto dan video yang menarik, supaya produknya dapat menarik minat pasar yang lebih luas.

Setelah ketiga sesi selesai, pelatihan kami tutup dengan mengumumkan pemenang kompetisi foto dan video. Total ada 3 pemenang individu untuk kategori foto terbaik, dan 1 pemenang kelompok untuk kategori video terbaik. Hadiah sudah dibagian, dan semuanya senang!

Tidak hanya melakukan pemberdayaan untuk masyarakatnya, kami atas nama Universitas Paramadina juga ingin berkontribusi untuk lingkungan hidup di Pulau Untung Jawa. Karena itu keesokan harinya, kami sekelas bersama dengan warga melakukan penanaman 2.000 mangrove. Diharapkan mangrove yang kami tanam nantinya menjadi besar dan dapat mencegah abrasi di Pulau Untung Jawa.

26 Kepribadian, Jadi Satu Keluarga

Di balik kegiatan pemberdayaan sosial yang kami sekelas lakukan, terdapat kisah-kisah manis yang kemudian mempersatukan kami semua sekelas menjadi satu keluarga besar. Kelompok saya (kelompok dua) terdiri dari sembilan orang yaitu saya sendiri, Ayu, Cut, Putri, Ghugus, Radyansyah, Rio, Nufus, dan Abyan. Kami semua berkontribusi, dengan kapasitasnya masing-masing, agar kegiatan pelatihan dapat berjalan dengan baik.

Pengalaman saya bersama kelompok dua sungguh menyenangkan karena kekompakan kami. Namun tidak hanya di kelompok kami, satu kelas ternyata juga bisa kompak.

Di kelas Pemberdayaan Sosial ini ada 26 orang dengan kepribadiannya masing-masing, tentu ini bukan
jumlah yang sedikit. Siapa yang menyangka, 26 orang yang baru kenal di bulan September 2023, yang
baru bertemu muka hanya 2-3 kali saja, tapi bisa jadi hangat seperti keluarga hanya dalam waktu tidak
sampai 2 bulan.

Semua berawal dari percakapan-percakapan kecil terkait tugas kampus di grup WhatsApp. Di tengah itu kami bersama-sama merasakan berbagai emosi. Mulai dari senang, bingung, panik, bingung lagi, hingga akhirnya lebih banyak tawa yang kami bagikan selama melakukan koordinasi kegiatan. Puncaknya adalah pada malam itu, Jumat (10/11/2023) di pinggir pantai Pulau Untung Jawa, ketika kami semua bernyanyi bersama sembari melepas penat setelah seharian berkegiatan.

Irwin Altman dan Dalmas Taylor barangkali tidak menyangka, bahwa teori penetrasi sosial yang mereka kembangkan pada tahun 1973 ternyata masih relevan dan nyata terjadi di kelas kami, persis 50 tahun kemudian. Satu persatu kepribadian kami mulai terbuka, tidak lagi jaim apa lagi malu.

Ibarat bawang merah, kulit terluar sudah tersibak, dan makin lama kami semakin mengenal satu sama lain dengan lebih “intim”. Lebih menakjubkannya lagi, “kemesraan” ini tidak hanya kami rasakan sesama mahasiswa, tapi juga dengan dosen Ibu Dwi Purbaningrum dengan bernyanyi dan berdansa bersama. Terima kasih Ibu Dwi yang sudah membersamai kami selama kami bingung, pusing, hingga akhirnya berhasil mengadakan kegiatan pemberdayaan dengan sukses di Pulau Untung Jawa.

Penerapan Teori dalam Kegiatan Pemberdayaan

Secara teori komunikasi, kegiatan pemberdayaan masyarakat ini dapat dianalisis dengan menggunakan elaboration likelihood theory. Teori ini dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John T. Cacioppo pada tahun 1980. Menurut teori ini, orang dapat memproses sebuah pesan persuasif dengan cara yang berbeda. Cara yang berbeda tersebut juga akan mempengaruhi perubahan sikapnya.

Ada dua jalur yang berbeda. Pertama adalah central route, di mana seseorang memproses informasi dari luar secara aktif dan kritis. Ia akan menganalisa dan mempertimbangkan informasi dengan hati-hati. Pemrosesan informasi tersebut kemudian akan berdampak pada perubahan pola pikir dan tindakan. Sementara jalur kedua adalah peripheral route, yaitu kondisi di mana seseorang mengolah informasi dengan tingkat kritis yang rendah. Di jalur ini, biasanya seseorang lebih memperhatikan daya tarik dari pesan tersebut, seperti tampilan kemasan, ketimbang isi pesannya sendiri.

Kelompok kami sebagai pemberi materi berusaha semaksimal mungkin agar sesi pelatihan berlangsung menarik, karena itu kami hanya memberikan teori singkat dan memperbanyak praktik. Selain itu kami juga memberikan tantangan menarik berupa kompetisi foto dan video terbaik. Peserta dengan foto dan video terbaik akan mendapatkan hadiah yang sudah kami siapkan.

Cara-cara di atas merupakan upaya persuasif dari kami untuk menarik minat peserta agar tidak bosan selama pelatihan berjalan. Hasilnya bisa terlihat dari antusiasme peserta di setiap sesi. Sejalan dengan central route dalam elaboration likelihood theory, peserta nampak serius memperhatikan penjelasan dari kami. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga mengajukan beragam pertanyaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengambil gambar dan edit video. Dari interaksi ini, artinya ada cognitive response dari peserta terhadap materi pelatihan yang kami sampaikan.

Kami harap selanjutnya materi yang kami sampaikan dapat merubah cara pikir dan perilaku para peserta pelatihan agar dapat menghasilkan konten foto dan video dengan lebih baik, sehingga bisa mempromosikan wisata Untung Jawa dengan maksimal.

Disclaimer: Tulisan ini merupakan bagian dari tugas perkuliahan S-2 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *