Don Hasman: Daripada Disimpan Lebih Baik Dibagi
Panggilannya Om Don, pria kelahiran 7 Oktober 1940 ini dikenal sebagai seorang fotografer penjelajah. Om Don sudah melanglang ke banyak kota, gunung, gua, pantai serta pulau di berbagai negara.
Saat hendak wawancara, seperti biasa saya mengeluarkan pensil dan buku kecil. Tiba-tiba Om Don menyahut, “ini yang penting. Nomor satu untuk jadi orang yang sukses adalah pensil dan buku catatan kecil. Kadang orang tidak sadar,” katanya. Wah, saya jadi malu. Yuk kita mulai saja obrolan bersama Om Don.
Motivasi awalnya pengen belajar motret dari mana Om?
Dari kakak. Dia suka moto, itu juga curi pinjam dari dia. Saya kan belum punya (kamera) waktu itu. Dia mah nggak mau tahu, kalau bisa jangan dikutak-katik barangnya.
Nggak ada orang lain yang ngajarin Om?
Oh kalau dulu lebih-lebih tuh. Dia (kakak) tahu juga dia nggak mau kasih tahu. Biar dia aja yang bisa. Jadi ya nyoba sendiri.
Jadi, Om Don belajar sendiri sampai bisa?
Mana ada kata sudah bisa? Kalau sekolah ada tamatnya, ada ijazahnya. Motret mana ada. Cuma kita saja yang merasa sudah bisa, tapi parameternya nggak ada kan.
Bisa dapetin foto yang bagus tipsnya apa nih Om?
Nah itu itu teknik dasar fotografimu dulu yang harus kuat. Nggak susah dipelajari kok. Yang paling mendasar sekali ada lima poin lah, walaupun sebenarnya lebih ya. Itu komposisi, kemudian formatnya mau vertikal atau horizontal, lalu sumber datang cahaya, sudut pemotretan, nah baru menangkap momen yang paling bagus. Jangen motret selalu simetris.
Setiap kali Om berbagi tentang fotografi, Om selalu bilang “kalau ada yang mau copy foto saya, silakan.” Om nggak takut foto Om dipakai buat yang tidak-tidak?
Ya itu urusan mereka. Yang tanggung jawab kan mereka.
Nggak merasa rugi tuh Om?
Ah, kita jangan cari-cari untung lah. Ada aja untung dari tempat lain. Nggak usah pusing lah. Daripada kita simpan sendiri, lebih baik kan kita bagikan, biar bermanfaat buat orang lain. Jangan punya pikiran begitu lah. Pikiran positif saja. Orang mau berbuat jahat ke kita, ya itu urusan dia.
Ketika kita mempromosikan Indonesia, sebenarnya ada efek negatifnya nggak Om?
Mau tidak mau, itu pasti terjadi. Di mana pun itu, namanya pariwisata pasti mengubah tatanan yang sudah baku. Cepat atau lambat pasti berubah. Ambil contoh Bali. Itu tidak bisa dihindari, karena itu memang berlaku demikian secara alamiah akan terjadi cepat atau lambat.
Orang luar negeri itu bisa mengelola pariwisatanya dengan baik, misalnya mulai dari kebersihannya, dll. Kira-kira kenapa kita belum seperti itu menurut Om Don?
Tanya sama aparatnya, “kau bekerja apa tidak?”, yang mengawasi berfungsi apa tidak? Itu kan masalah orangnya, kita tidak disiplin, kuncinya di situ.
Kalau begitu apa lebih baik Indonesia nggak usah dipromosikan, supaya masih terjaga keasliannya?
Katanya kita perlu. Tiap wisatawan yang datang itu bawa duit. Mereka pasti makan, pakai transportasi, menginap. Itu semua ada duitnya. Dia perlu hiburan. Itu pasti menguntungkan.
Kalau dari kitanya sebagai masyarakat umum gimana Om?
Kalau memang ada ketentuannya, misalnya mesti bayar karcis, ya bayarlah. Kita bayar, terus lakukan wisata dengan baik. Jangan buang sampah. Masalahnya kita mau atau tidak? Susah sih kalau pariwisata. Orang asing kontribusinya lebih besar, dan dalam hal kebersihan juga lebih sadar, walaupun yang ngaco juga ada sih.
Om punya penjelajah yang jadi idola nggak?
Nggak ada. Saya cuma baca aja kisah mereka. Setelah saya pelajari, apa yang mereka lakukan itu bisa kita lakukan juga kok. Hanya saja dia lebih dulu bisanya. Dan yang paling penting kalau bepergian itu, pakai duit sendiri kalau bisa. Kalau pakai duit orang, itu semua juga bisa. Nah kalau bisa pakai tenaga sendiri, otak sendiri, duit sendiri, itu baru namanya mandiri. Ini menurut saya. Kalau bagi saya sebaiknya mandiri.
Tulisan ini merupakan wawancara saya dengan Don Hasman sekitar November 2011. Pernah dimuat di majalah elektronik Backpackin Magazine volume 13, baca majalah lengkapnya di sini.

