ambar arum

segala macam tulisan saya ada di sini

Edi Sukmoro, Kereta Api Indonesia

Edi Sukmoro: Penjaga Harmoni Kereta Api

(Tulisan ini merupakan wawancara saya dengan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI), Edi Sukmoro. Dimuat di majalah ONTRACK milik PT KAI edisi September 2018)

Edi Sukmoro, Kereta Api Indonesia

Sudah bukan rahasia lagi bahwa PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Semua itu dapat terwujud salah satunya adalah berkat kepimpinan yang kuat oleh Pak Edi Sukmoro. Beliau menjadi teladan bagi bawahannya dari berbagai divisi untuk bersama-sama secara harmonis memajukan KAI. Berikut bincang-bincang OnTrack bersama Pak Edi Sukmoro di tengah-tengah kesibukannya.

Data Diri

Nama    : Edi Sukmoro
Lahir      : Semarang, 15 Maret 1959
Jabatan : Direktur Utama PT KAI

Apa rahasia keberhasilan Bapak memimpin KAI hingga berkembang sampai saat ini?

Yang paling penting itu adalah pembekalan kepada seluruh pegawai, 29.000 pegawai KAI ini harus memiliki 3 hal di dalam hatinya. Pertama integritas, ini gak bisa dibeli. Orang pintar kalau integritasnya nggak baik, itu justru malah merusak sistem, karena dia bisa melakukan yang tidak dikehendaki tanpa diketahui. Kedua itu pekerja keras, kereta api sifatnya pelayanan publik, manakala orang libur, kita malah piket. Ketiga adalah pelayanan. Masyarakat itu harus dijamu, supaya mereka nyaman, aman, bahagia naik kereta api. Nah 3 mindset ini harus ada di hati semua pegawai kereta api tanpa kecuali.

Di KAI ini kan banyak unit ya, bagaimana Bapak memimpin berbagai unit yang masing-masing punya berbeda kepentingan agar harmoni bergerak bersama untuk kemajuan KAI?

Nah ini harus disatukan visinya yang menyangkut ke 5 pilar: integritas, profesional, keselamatan, inovasi dan pelayanan prima. 5 pilar inilah yang melandasi kita itu untuk memajukan kereta api.

Jadi 5 pilar itu dipegang oleh seluruh direktur dan bawahan juga?

Iya. Sampai di bawahan. Dan jangan lupa bahwa keberadaan atau eksistensi dari lapisan paling atas (direksi) itu diharapkan oleh mereka-mereka yang di lapangan. Maka saya membuat “direksi menyapa lintas.” Misalkan ke DAOP 5, Purwokerto. Kita buat tenda dan makan bersama di sana. Bakar api unggun bersama, nyanyi bersama, sehingga mereka merasa bahwa “oh direksi itu nggak jauh dari kami.” Mereka-mereka yang memeriksa rel, memeriksa jembatan, daerah rawan, kita kumpulkan semua. Makannya pun tidak mewah, kita undang kaki lima. Mereka bahagia sekali. Dan ini mungkin hal yang menyentuh, yang dibutuhkan mereka. Mereka bukan sebagai pesuruh, bukan sebagai pelayan. Tetapi mereka bagian dari seluruh manajemen di kereta api.

Jadi mereka merasa dekat ya, merasa sama-sama bekerja untuk KAI.

Merasa dekat. Nah kesempatan itu juga digunakan untuk memberikan hadiah pada mereka. Meskipun tidak berharga mahal sekali, tetapi begitu mereka dapat hadiah, rasanya mereka terhargai. Tentu saja waktu kasih hadiah, kita kasih pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar, yang lucu-lucu kepada mereka. Bahkan yang menang paling tinggi, mereka saya berangkatkan ke luar negeri untuk training. Ada ke Australia, ada yang ke Perancis, ke Cina. Iya, mereka itu, penjaga rel, mungkin ada yang petugas keamanan, penjaga palang pintu, diberangkatkan ke luar negeri. Sehingga mereka merasa bahwa, “saya bagian dari mereka, saya dipedulikan oleh mereka.”

Jadi mereka semangat ketika bekerja ya?

Sangat. Mereka kami minta untuk cerita. Mana yang paling lucu, nah itu saya kasih hadiah ke luar negeri. Wah itu ceritanya lucu-lucu. Ada asisten masinis, begitu turun di stasiun, dikejar-kejar ibu hamil. Dia ketakutan, ada apa ini. Ternyata ibu itu mengidolakan masinis, “tolong perut saya dielus supaya anak saya jadi masinis.” Itu dapat hadiah dia. Ada lagi yang berjaga di stasiun, di hutan di Sumatera. Datang perempuan berdarah-darah semuanya, dia ketakutan, dikira hantu. Ternyata korban KDRT, orang itu lari minta tolong ke stasiun. Jadi cerita-cerita yang mereka banggakan, mereka ceritakan pada kita.

Sederhana ya?

Sangat sederhana, mereka disentuh begitu, senengnya minta ampun. Berjoget bersama, makan nasi goreng sama-sama, mie godog sama-sama.

Kalau dari Bapak sendiri harapan buat KAI sendiri sebenarnya apa sih Pak?

Bantuan pemerintah sangat diharapkan. Misalkan sekarang mau buka jalur, itu pemerintah harus turun, karena ini menyangkut pembebasan tanah. Karena itu, campur tangan pemerintah sangat diharapkan. Kedua, harapan saya kereta api menjadi pilihan sehingga orang itu meninggalkan kebiasaan bawa kendaraan pribadi. Angkutan massal menurut saya harus digalakkan. Sehingga orang itu tidak perlu dipaksa, akan pindah ke angkutan massal. Jakarta itu 2 tahun lalu paling 500ribu per hari. Sekarang sudah 1.150.000 per hari. Artinya apa, begitu itu bagus, nyaman, mudah, murah, orang itu pindah dengan sendirinya, nggak usah ganjil genap, nggak usah 3 in 1. Ini angkutan massalnya harus dibikin cantik, dibikin bagus, dibikin murah.

Seberapa penting menurut Bapak membangun image KAI dibandingkan dengan peningkatan kualitasnya itu sendiri? Apakah harus imbang, atau bagaimana?

Sebenarnya image itu akan terbawa manakala pelayanan kita juga naik. Jadi artinya nggak usah woro-woro ke sana ke mari. Kita memberikan pelayanan bagus, keamanan bagus. Itu akan ketok tular dari mulut ke mulut. Baca kan viral kemarin, ada Polsuska mengembalikan uang sampai 10 juta. Saya jawab, lho ini hal biasa buat KAI. Menemukan 100 juta juga ada. Dikembalikan utuh. Itu sudah prosedur standar kami. Saya beritahu ya, orang jualan mangga, kalau manis, dia nggak teriak-teriak. Karena orang datang “wah manis lho, ayo beli ke situ.” Tapi kalau agak nggak manis, penjualnya teriak “mangga ini bagus, manis,” biasanya gitu ya. Tapi memang dulu, kereta api itu kan tidak dapat nama. Orang melihat, banyak orang di atas, banyak copet, banyak asongan. Saat itu memang butuh teriak, “eh kita mau baik lho.” Tapi di saat saya, itu sudah tinggal ngisi. Kan saat itu saat Pak Jonan ya. Artinya saya lanjutkan supaya orang itu percaya bahwa kereta api itu nyaman. Bandung – Jakarta ini, dari mulai 8 kereta, naik 10, 12, terakhir saya cek ini sudah 17 kereta setiap hari. Weekday pun sekarang penuh. Artinya apa, orang mulai percaya, “enak nih naik kereta api.”

Untuk menjaga agar kualitas KAI tetap konsisten semakin baik, tindakannya bagaimana?

Ya gini, kan bawahan disupervisi oleh atasan. Atasan di atasan lagi. Paling ujung kan direksi. Ya direksinya jangan pernah berhenti untuk selalu mengingatkan.

Menjadi teladan ya?

Iya. Harus diingatkan terus. Makanya direksi itu tidak pernah ada di rumah. Jalan terus. Karena persoalannya itu di lintas, di lapangan, bukan di meja.

Makanya Bapak pakai sepatu kets ya?

Hahaha. Begini, orang-orang yang ke lintas itu harus pakai sepatu yang ringan seperti ini. Kita kan mblusuk mblusuk masuk rel, masuk jembatan. Karena memang persoalan yang kita hadapi itu di rel, di stasiun, di lintas, di DIPO. Sehingga sepatu ini lah yang nyaman. Kalau sepatu resmi itu, ya pasti jebol.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *